Gejala

Gejala utama yang ditimbulkan oleh infeksi nematoda adalah terbentuknya  gelembung udara. Gelembung udara ini merupakan hasil dari peningkatan ukuran dan jumlah sel dalam jaringan yang terinfeksi dan berdekatan yang disebut dengan bintil akar. Gelembung udara bervariasi dalam jumlah dan ukuran, tergantung pada tingkat infeksi dan spesies nematoda yang terlibat. Ketika banyak, gelembung udara cenderung menyatu, sehingga akar akan membengkak. Ketika terbentuknya bintil akar, aktifitas  jaringan vaskuler terganggu dan aliran air dan nutrisi melalui tanaman terhambat. Akibatnya, terjadi gejala sekunder, termasuk klorosis, pengerdilan, dan kecenderungan tanaman menjadi layu selama hari panas. Bagian tanaman di atas permukaan tanah mengalami gejala kerdil dan menguning kemudian mati bujang (akibat komplokasi dengan pathogen lain). Sedangkan bagian tanaman di bawah permukaan tanah perakarannya berkurang, terdapat nematoda betina berwarna putih dan sista berwarna putih, kuning emas sampai coklat mengkilat (The American Phytopathological Society, 1999).

Penyebab penyakit

Meloidogyne arenaria, M. hapla, M. incognata, dan M. javanica merupakan nematoda penyebab penyakit bintil. Namun spesies nematoda yang menyebabkan bintil akar pada tanaman kedelai adalah Heterodera glycines (The American Phytopathological Society, 1999).

Akibat serangan

Kerugian langsung: dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian yang dapat mencapai 50% dari hasil panen. Nematoda dapat berinteraksi dengan patogen tumbuhan lain, misalnya: Fusarium sp., Rhizoctonia sp., Pythium sp., Sclerotium sp., dan penyebab layu bakteri Pseudomonas / Ralstonia solanacearum yang dapat menyebabkan intensitas  penyakit meningkat (Adisarwanto, 2002).

Penyebaran patogen / Siklus patogen

Meloidogyne spp. menyerang akar, terutama pada atau dekat ujung akar. Infeksi dapat terjadi sepanjang musim pertumbuhan. Migrasi dalam akar tidak terjadi, kecuali ada infeksi besar-besaran oleh nematoda. Pada benih biasanya nematoda menetap di lokasi makan dekat dengan titik masuk. Inisiasi menyakitkan terjadi dalam waktu 2-3 hari. Setelah itu nematoda menjadi dewasa. Nematoda betina membangkak dan berbentuk buah pir. Pada temperatur di atas 15o C jumlah nematoda dalam tanah mencapai maksimum sebab telur nematoda menetas pada temperatur tersebut. Ketika suhu pada kedelai di bawah 15o C, nematoda cenderung bertahan hidup sebagai telur. Populasi nematoda menurun perlahan-lahan selama musim dingin dan menurun drastis selama musim semi. Penurunan drastis jumlah namatoda infektif dapat terjadi beberapa minggu sebelum tanam dan dapat berakibat dari meningkatnya aktivitas nematoda, menipisnya cadangan makanan mereka dan peningkatan dalam kegiatan predator dan parasit dari arthropoda tanah dan komunitas mikroba yang merugikan untuk bertahan hidup. Pada waktu tanam, jumlah nematoda dalam tanah berada pada titik terendah, biasanya kurang dari 10%. Tubuh seksual dimorfik, jantan berbentuk vermiform (seperti cacing), betina berbentuk pyriform (seperti buah pear / bulat). Siklus hidup nematoda terdiri dari: telur, 4 stadia juvenil / larva (J1, J2, J3, dan J4), dan dewasa. Selama hidupnya, nematoda mengalami 4 kali pergantian kulit. Hanya J2 (vermiform) yang infektif, setelah masuk akar tubuhnya membengkak, ganti kulit ke 2, 3, dan 4 secara cepat. Setelah ganti kulit 4, betina yang berbentuk pyriform, jantan kembali seperti cacing dan hidup bebas di dalam tanah. Lama siklus hidup sangat ditentukan oleh suhu, pada 29oC telur dihasilkan 19 – 21 hari setelah penetrasi.  Betina dapat menghasilkan 300 – 400 telur. J2 menuju meristem pucuk (tepat di belakang tudung akar), menembus epidermis, bergerak interseluler dalam korteks, dan menempatkan kepalanya pada jaringan pembuluh (sel floem primer atau perisikel). J2 menetap dengan tubuh sejajar sumbu akar, sel-sel di sekitar kepala mengalami pembesaran dan berinti banyak dan menjadi tempat makan yang permanen bagi nematoda yang disebut sel-sel raksasa (giant cells). Fotosintat, senyawa lain, mineral, dan air dalam tanaman akan dimobilisasi ke sel-sel raksasa dalam akar, akibatnya pertumbuhan dan hasil tanaman akan berkurang (The American Phytopathological Society, 1999).

Pengendalian :

Jika tanaman sudah terserang dikendalikan dengan nematisida phenamifos dan carbofuram. Sedangkan untuk pencegahan digunakan bibit atau benih bebas nematoda (Adisarwanto, 2002).

Adisarwanto T Dr, Rini Wudianto. 2002. Meningkatkan Hasil Panen Kedelai. Depok: Penebar Swadaya.

The american Phytopathological Society. 1999. Compendium of Soybean Diseases Fourth Edition. USA: APS Press.

Padi (fase vegetatif)

Hama utama pada komoditi ini adalah penggerek batang padi Scirpophaga spp. (Lepidoptera: Pyralidae). Gejala yang timbul akibat serangan hama ini adalah tanaman padi yang belum berbunga merah kuningan atau merah cokelat jika diserangnya. Ujung daun padi telah mati kering dan mudah dicabut. Daun tersebut sebenarnya telah putus karena digigit ulat yang berada dalam batang tanaman padi. Jika batang padi dibuka, akan terlihat ulat di dalamnya.

Cara pengendalian dari serangan hama ini salah satunya dengan cara memperhatikan penyemaiannya yang dilakukan setiap hari. Jika ada telur Scirpophaga, segera diambil, dikumpulkan, dan dibakar. Sesudah itu persemaian segera disemprot dengan insektisida untuk membunuh ulat dan ngengatnya (Pracaya, 2007). Hama lain yang ditemui pada tanaman ini diantaranya: keong mas (Pomacea caniculata) beserta telurnya yang menimbulkan bekas gerigitan pada daun, belalang (Valanga nigricornis) yang menyebabkan timbulnya bekas gerigitan pada tepi daun, larva Pelopidas (ulat pelipat daun) (Lepidoptera: Heperiidae), dan kumbang Chrysomelidae.

C. Padi (Fase Generatif)

Hama penting pada fase generatif adalah walang sangit (Hemiptera: Alydidae). Gejala yang timbul akibat dari serangan hama tersebut adalah buah padi yang dalam keadaan matang susu diisap cairannya hingga menjadi hampa (gabug) atau perkembangannya kurang baik.

Salah satu cara pengendalian walang sangit yaitu dengan cara penggunaan perangkap. Caranya adalah bangkai ketam (yuyu) yang ditancapkan pada belahan bambu di tengah tanaman padi. Bangkai ketam itu akan menarik walang sangit untuk berdatangan. Pada malam hari, walang sangit yang sudah berkumpul di bangkai ketam itu dibakar dengan nyala obor (Pracaya, 2007). Hama lain pada padi generatif ini antara lain: Pelopidas sp. ulat pelipat daun (Lepidoptera: Hesperiidae), belalang Valanga nigricornis yang menyebabkan gerigitan pada ujung daun, keong mas beserta telurnya yang menibulkan gerigitan pada daun, larva serta imago kumbang coccinellidae.

Pracaya. 2007. Hama dan Penyakit Tanaman Edisi Revisi. Depok: Penebar Swadaya.

Pada umumnya anatomi tumbuhan dibedakan atas beberapa hal, antara lain: struktur biji (jumlah kotiledon), struktur bunga, distribusi berkas pembuluh pada batang, dan struktur akar. Angiospermae merupakan tumbuhan berpembuluh berbiji tertutup. Organ vegetatif tumbuhan ini terdiri dari akar, batang, dan daun. Akar, batang dan daun terdiri dari 3 sistem jaringan yang sama, yaitu: sistem jaringan penutup, sistem jaringan pembuluh dan sistem jaringan dasar. Sistem jaringan penutup terdapat pada bagian terluar tubuh tumbuh-tumbuhan. Pada tubuh tumbuhan primer, sistem jaringan ini terdiri dari jaringan epidermis, sedangkan pada tubuh tumbuhan sekunder, epidermis digantikan oleh jaringan periderm. Sistem jaringan pembuluh terdiri dari xilem dan floem. Xilem berfungsi mengangkut air dan larutan garam dari akar ke daun melalui batang, sedangkan floem berfungsi mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke bagian organ lainnya. Sistem jaringan pembuluh terdapat diantara sistem jaringan dasar, yang sebagian besar terdiri dari jaringan parenkim. Perbedaan pokok antara ketiga organ tersebut terdapat pada distribusi relatif sistem jaringan pembuluh dan sistem jaringan dasar (Aryulina, 2005).

Struktur Anatomi Akar

Secara umum struktur anatomi akar tersusun atas jaringan epidermis, sistem jaringan dasar berupa korteks, endodermis, dan empulur; serta sistem berkas pembuluh. Pada akar sistem berkas pembuluh terdiri atas xilem dan floem yang tersusun berselang-seling. Struktur anatomi akar tumbuhan monokotil dan dikotil berbeda (Roewitawati, 2008).

Struktur Anatomi Batang

Secara umum batang tersusun atas epidermis yang berkutikula dan kadang terdapat stomata, sistem jaringan dasar berupa korteks dan empulur, dan sistem berkas pembuluh yang terdiri atas xilem dan floem. Xilem dan floem tersusun berbeda pada tumbuhan monokotil dan dikotil. Xilem dan floem tersusun melingkar pada tumbuhan dikotil dan tersebar pada tumbuhan monokotil (Roewitawati, 2008).

Struktur Anatomi Daun

Daun tumbuhan tersusun atas epidermis yang berkutikula dan terdapat stomata atau trikoma. Sistem jaringan dasar pada daun monokotil dan dikotil dapat dibedakan. Pada tumbuhan dikotil sistem jaringan dasar (mesofil) dapat dibedakan atas jaringan pagar dan bunga karang, tidak demikian halnya pada monokotil khususnya famili Graminae. Sistem berkas pembuluh terdiri atas xilem dan floem yang terdapat pada tulang daun (Roewitawati, 2008).

Perbedaan yang mencolok antara tumbuhan dikotil ter letak pada berkas pembuluh, berkas pembuluh pada tumbuhan dikotil terlihat lebih teratur, sedangkan berkas pembuluh pada tumbuhan monokotil terlihat berkas pembuluh yang tidak teratur. Berkas pembuluh terdiri dari xylem atau suatu alat transportasi yang digunakan untuk mengangkut sari makanan dan unsur hara dari tanah keseluruh tubuh tumbuhan dan floem yaitu berkas yang berfungsi sebagai pengangkut hasil fotosintesis dari daun keseluruh tubuh tumbuhan (Aryuliana, 2005).

Menurut literatur pada akar tumbuhan dikotil, di antara xylem dan floem terdapat kambium, sedangkan pada akar tumbuhan monokotil di antara xylem dan floem tidak di jumpai kambium. Kambium merupakan titik pertumbuhan sekunder kearah dalam membentuk xylem dan kearah luar membentuk floem. Sedangkan pada batang monokotil memiliki ikatan pembuluh angkut dan anatomi batang muda dan batang tua sama. Batang dikotil memiliki ikatan pembuluh angkut dan anatomi batang muda dan batang muda berbeda yaitu di temukannya empelur pada batang muda dan sebaliknya pada batang tua (Atinirmala, 2006).

Secara umum dapat pula dikatakan bahwa tumbuhan dikotil memiliki ciri berupa akar tunggang, bentuk tulang daun menjari, tidak di temukannya tudung akar, bunga kelipatan 5 dan biji berkeping 2(dua), sedangkan pada tumbuhan monokotil memiliki ciri berupa akar serabut, bentuk tulang daun sejajar, di temukannya tudung akar, bunga kelipatan 3 dan biji berkeping 1(satu).

Aryulina, Diah. 2005. Biologi. Jakarta: Esis.

Atinirmala, Pratita. 2006. Bilologi Praktis. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Roewitawati, Dyah. 2008. Biologi Umum Pertanian. Malang: Rajawali.